14 Juni 2009


Tenaga Medis Tak Betah

MESKIPUN
pemerintah telah menyediakan berbagai sarana dan prasana pelayanan kesehatan di pedalaman dan daerah terpencil, namun seringkali tenaga medis merasa tidak betah bertugas dan memilih ke daerah perkotaan. Ketua Komisi III DPRD Nunukan Karel Sompoton mengatakan, hal tersebut sudah sangat jelas dan bukan terjadi saat ini saja. Sejak ia masih duduk dibangku sekolah dasar, sudah banyak tenaga medis yang meninggalkan tempat tugasnya.
"Kalau menurut saya faktornya karena kondisi wilayah yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan mereka. Namanya saja pedalaman, siapa sih yang suka?", ujar anggota Fraksi Partai Bulan Bintang.
Sementara ini, kondisi tersebut harus bisa diterima. Namun ia juga berharap agar pemerintah lebih tegas dan bisa menjalankan tugas- tugasnya dengan baik sehingga pelayanan kesehatan tetap diberikan kepada masyarakat walau dalam keadaan terbatas. Artinya dinas terkait harus melakukan pengawasan terhadap para tenaga medis yang sementara ini bertugas di daerah pedalaman.
Untuk mengatasi masalah ini, Karel selalu menekankan kepada dinas terkait untuk lebih memprioritaskan putra- putri daerah agar di sekolahkan menjadi tenaga- tenaga medis. Sehingga saat ditempatkan di daerahnya masing-masing, tidak ada alasan untuk tidak betah.
"Saya sangat setuju jika ini benar- benar bisa diwujudkan oleh pemerintah daerah. Karena pada dasaranya ini juga merupakan salah satu cita- cita saya selama menjadi anggota Dewan. Sayangnya Dinkes Nunukan lambat memrogramkan putra- putri daerah untuk menjdi dokter di daerah kita," katanya.
Selain itu untuk bidan- bidan dan para tenaga medis yang bertugas di pedalaman dan daerah terpencil sebaiknya diberikan tunjangan khusus karena biaya hidup relatif mahal.
Pelayanan kesehatan terhadap warga pedalaman dan terpencil dirasa sangat penting sebagai hak dasar yang wajib diberikan kepada setiap warga negara.
Pada persoalan lainnya, warga mengeluhkan bus keliling untuk kesehatan sudah jarang beroperasi. Sehingga pelayanan terhadap warga menjadi berkurang. Sejumlah pos kesehatan yang dibangun, justru tidak memiliki tenaga medis.
Namun Karel mengakui, kekurangan tenaga medis seperti ini juga terjadi di ibukota kabupaten. RSUD telah beroperasi namun belum ada dokter spesialis. Hal inilah yang mesti disikapi pemerintah secepatnya agar pelayanan kesehatan terhadap masyarakat bisa berjalan dengan optimal. (sadam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar