01 Juni 2009

Penampatan Guru Tidak Profesional


Tak Disediakan Perumahan, Guru Daerah Terpencil Tinggal di Toliet

NUNUKAN,TRIBUN-
Penempatan tenaga guru di Kabupaten Nunukan masih belum profesional. Sebab tidak jarang penampatannya didasarkan pada memo yang dikeluarkan pejabat penting daerah. Para guru lebih senang mengajar di daerah perkotaan, sehingga memo dari pejabat penting harus digunakan. Tujuannya agar guru dimaksud bisa dipindahkan dari tempat tugasnya di pedalaman atau daerah terpencil.
Hal tersebut dikemukakan Wakil Ketua Komisi III DPRD Nunukan Hermansyah R, Sabtu (30/5) menyikapi ketidakkonsistenan Pemkab Nunukan dalam penampatan tenaga guru.
Menurut politisi Partai Golkar, ada komitmen yang harus di pegang setiap PNS yakni siap ditempatkan di mana saja.
"Kenyataannya selama ini penempatan masih belum profesional. Harusnya para guru selalu siap, tidak ada istilah senang atau tidak. Namun kalau memang ketika lulus PNS dan mereka minta pindah, maka yang punya wewenang juga harus konsekuen dan bijaksana," ujarnya.
Sebenarnya Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Nunukan mengeluhkan ketidaksinkronan antara masyarakat, Disdik, dan pejabat pemerintahan daerah dan DPRD. Sebab saat penampatan telah dilakukan, tiba-tiba muncul memo meminta guru bersangkutan dipindah ke perkotaan. Terhadap persoalan ini Hermansyah mendesak Disdik Nunukan bertindak tegas dengan tidak mengabulkan memo dari siapapun.
Karena penempatan yang tidak konsisten, terjadi ketimpangan jumlah tenaga pengajar antara di daerah perkotaan seperti Kecamatan Sebatik dan Nunukan dengan daerah-daerah pedalaman dan terpencil di Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, Lumbis dan Sebuku.
Diakui minimnya sarana dan prasarana sekolah maupun fasilitas pemerintah di pedalaman dan daerah terpencil, membuat para guru ini enggan mengajar di sana. Guru di tempatkan mengajar tetapi tidak disediakan perumahan. Bahkan Hermansyah mengungkapkan, saat melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Sebatik Barat, DPRD Nunukan menemukan ada guru terpaksa harus mengubah toilet sekolah menjadi tempat tinggal.
"Inikan sama saja dengan melecehkan profesi seorang guru. Bagaimana anak bangsa mau cerdas kalau gurunya tinggal di WC? Supaya guru betah mengajar di pedalaman, berikan sarana dan prasarana yang memadai. Kalau sudah dipenuhi ternyata mereka masih tidak mau mengajar dengan alasan tidak sanggup, diberhentikan saja," katanya.
Kepala Disdik Nunukan Walijo menolak memberikan komentar saat hendak dikonfirmasi mengenai hal ini. "Ke staf saya saja," katanya mengelak. (sadam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar